Tampilkan postingan dengan label promkes keliling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label promkes keliling. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Promkes NAPZA Mencegah Kematian

Penggunaan Narkotika, Psikotropika dan Bahan Adiktif lainnya yang populer disebut dengan NAPZA, dewasa ini banyak digunakan oleh berbagai golongan masyarakat tanpa pengawasan medis dan di luar dosis yang ditetapkan seperti remaja yang ada di Kecamatan Lindu. Panggil saja Deni (nama samaran). Wawancara bersama warga, deni sering mengkonsumsi obat-obatan yang memang dia beli sendiri dari pengedar yang berada disekitar Kec. Lindu. Remaja berumur 18 tahun ini, telah lama mengkonsumsi narkoba. Wawancara dengan teman Deni, “dulunya, dia hanya ingin mencoba-coba saja obat yang ditawarkan teman sekampung. Memang ini ajalnya dia.” ujarnya. Deni meninggal Bulan Desember 2014 lalu.


Tim Pencerah tidak mengetahui secara pasti kematian dari Deni. Deni yang tinggal di salah satu dusun sulit di Kec. Lindu ini, meninggal akibat sakau didalam kamar. “Dia menjerit meminta obat itu, marah, memukul-mukul kepala ke dinding kamar sampai tidak sadarkan diri!.” ujar Perawat Selfi pemegang wilayah Desa Olu. Perawat Selfi mengatakan bahwa sampai di rumah Deni, ia sudah terkapar, tubuh sudah dingin dan tidak bernafas. Perawat Selfi mengakui akses di Desa Olu sangat sulit, jauh dan rumah warga terpencar bahkan ada tinggal di tengah hutan.

Mengingat adanya penyalahgunaan NAPZA yang dapat menimbulkan masalah fisik dan psikologis, tim Pencerah melalukan promosi kesehatan ke remaja-remaja Kec. Lindu. Pelaksanaan di awali pada remaja di SMP Negeri 1 Lindu.
Ns. Rezi memberikan materi NAPZA
Siswa SMP 1 Lindu mendengarkan dengan antusias
Ns. Rezi memberikan apresiasi kepada siswa yang bertanya
Ns. Rezi memberi nasehat kepada Siswa
Rasa ingin tahu melekat pada benak remaja SMP Lindu. Banyak pertanyaan yang dilontarkan mereka. Bahkan dengan guru-guru yang mengikuti penyuluhan kesehatan ini. Selanjutnya, SMP Maradindo yang terletak diseberang Danau Lindu.
Siswa SMP Maradindo mendengarkan dengan antusias
Ditengah penyuluhan, Ns.Rezi menyuruh remaja untuk merenung sejenak tentang “sejauh mana akibat Napza muncul baik pada diri sendiri, keluarga bahkan masyarakat sekitarnya”.
Siswa merenungi apa yang disampaikan Ns.Rezi

Mereka tahu akibat yang muncul pada diri mereka, keluarga bahkan orang-orang sekitar mereka.  Di akhir sesi ada beberapa remaja yang ingin bertanya secara pribadi bersama Ns. Nahla. Konsultasi kesehatan tentang Napza, ditawarkan oleh Ns.Nahla. Pertanyaan juga bertubi-tubi dijawab oleh Ns.Nahla.  Menutup akhir sesi, tidak lupa kami berfoto ria. Ciiiss..!!

Foto bersama dengan siswa SMP Maradindo
Mengingat akan kematian itu pasti datang, menyadarkan manusia akan betapa fananya dunia ini. Sehingga membuat diri berhitung, “Sudah cukupkah bekal untuk ke akhirat yang abadi?”. 

~Ns. Rezi Mawaldi, S.Kep, CBWC~

Senin, 26 Januari 2015

Menilik Perilaku Hidup Bersih di Dusun Sulit Sangali

Perjalanan Pencerah Nusa kali ini akan menuju Dusun Sulit Sangali. Keberuntungan kali ini berpihak pada kami, hujan yang tidak turun selama dua hari membawa kami bisa melewati jalan ini dengan motor. Biasanya jika hujan lebat maka jalanan akan sulit untuk ditempuh bahkan biasanya harus ditempuh dengan berjalan kaki.
Ns. Rezi dan Ns. Nahla melewati medan sulit dengan motor
Sesampainya kami di Sekolah Dasar Negeri Sangali kami disambut dengan anak-anak yang bersorak sorai. Ternyata mereka telah menunggu kami sejak tadi. Akhirny setelah bertemu dengan guru kegiatan kami mulai. Kegiatan kami buka dengan perkenalan dan permainan. Selanjutnya Ns. Nahla bertanya apakah hari ini ada yang tidak mandi, ternyata enos dan teman-temannya tidak mandi. Enos menyampaikan bahwa tidak mandi karena dingin. Tiba-tiba ada satu anak yang bertanya, “kakak, apakah kami akan disuntik?”, ternyata anak-anak ini sejak tadi pagi sudah takut untuk disuntik. Akhirnya Ns. Nahla menyampaikan bahwa kegiatan hari ini yaitu belajar bersama untuk menjaga kebersihan diri. 
Tim Pencerah Nusa Tiba di SDN Sangali
Anak SDN Sangali sedang menuju kelas untuk Penyuluhan
Pelajaran dilanjutkan mengenai kebersihan diri yaitu mandi dan menjaga kebersihan gigi. Enos dan Erik mempraktekan cara mandi yang benar. Kegiatan dilanjutkan dengan screening kebersihan diri pada anak-anak. Ns. Rezi melihat kuku dan gigi anak-anak lalu memotivasi anak untuk menggunting kuku, mandi, dan menggosok gigi. Kegiatan ditutup dengan bermain bersama. Ibu dan Bapak Guru juga diminta untuk ikut memantau kebersihan diri anak-anak. Bulan depan saat Posyandu Pencerah Nusa akan mengevaluasi kembali kebersihan diri anak-anak sangali. Salam Sehat Lindunesia!
~Ns.Nahla Jovial Nisa~
Anak-anak antusias mendengarkan Ns. Nahla
Enos sedang mempraktikan mandi yang benar 
"siapa yang hari ini tidak mandi"

Siswa kelas 1 mempraktikan mandi dibantu oleh Guru
Ns. Nahla mengajarkan siswa tentang kebersihan diri 
Ns. Rezi dan siswa memulai permainan bersama

 
Pemeriksaan kebersihan diri dan gigi mulut oleh Ns. Rezi
Foto bersama dengan siswa SDN Sangali

Sabtu, 24 Januari 2015

Laksanakan Promkes ke Sekolah, Pencerah Nusantara Lindu 3 Lewati Jalan Setapak

Promosi kesehatan di sekolah merupakan suatu upaya untuk menciptakan sekolah menjadi suatu komunitas yang mampu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekolah. Sebagai suatu institusi pendidikan, sekolah mempunyai peranan dan kedudukan strategis dalam upaya promosi kesehatan. Hal ini disebabkan karena sebagian besar anak usia 5-19 tahun berada dalam lembaga pendidikan dalam jangka waktu cukup lama. Jumlah usia 7-12 berjumlah 25.409.200 jiwa dan sebanyak 25.267.914 anak (99.4%) aktif dalam proses belajar.

Untuk kelompok umur 13-15 thn berjumlah 12.070.200 jiwa dan sebanyak 10.438.667 anak (86,5%) aktif dalam sekolah (sumber: Depdiknas, 2007). Dari segi populasi, promosi kesehatan di sekolah dapat menjangkau 2 jenis populasi, yaitu populasi anak sekolah dan masyarakat umum/keluarga. Apabila promosi kesehatan ditujukan pada usia sampai dengan 12 tahun saja, yang berjumlah sekitar 25 juta, maka mereka akan mampu menyebarluaskan informasi kesehatan kepada hampir 100 juta populasi masyarakat umum yang terpajan promosi kesehatan

Sekolah mendukung pertumbuhan dan perkembangan alamiah seorang anak, sebab di sekolah seorang anak dapat mempelajari berbagai pengetahuan termasuk kesehatan. Promosi kesehatan di sekolah membantu meningkatkan kesehatan siswa, guru, karyawan, keluarga serta masyarakat sekitar, sehingga proses belajar mengajar berlangsung lebih produktif.

Hari itu, pukul 7 pagi, bidan Yunita Nur Rohmawati, Ns. Rezi Mawaldi, Ns. Nahla Jovial Nisa dan drh. Rahma Isna Saidah, sudah siap dengan media promosi kesehatan mengenai PHBS sekolah. Dengan mengenakan kostum senada berwarna hijau, mereka berjalan menyusuri jalan setapak menuju SD Bala Keselamatan Tomado dan SMP Negeri 1 Lindu.


Berjalan menuju tempat Promkes
Tidak jarang kaki kami masuk ke dalam kubangan lumpur akibat jalan yang becek setelah hujan turun. Pepohonan dan ilalang di kanan kiri jalan yang masih basah juga meninggalkan kotoran di baju kami. Meski demikian, kami menjalaninya dengan senang hati.

Hari itu merupakan jadwal promosi kesehatan kesehatan ke SD Bala Keselamatan Tomado dan SMP Negeri 1 Lindu. Sudah menjadi kegiatan rutin bagi kami melakukan promosi kesehatan ke sekolah-sekolah. Seluruh sekolah di dataran Lindu menyambut baik program Pencerah Nusantara yang bersama dengan Puskesmas Lindu yang secara rutin memberikan penyuluhan kesehatan di sekolah dan berharap program promosi kesehatan ini dapat terus dilaksanakan secara berkesinambungan.





~drh. Rahma Isna Saidah~

Kamis, 22 Januari 2015

Promkes Menyongsong Bulan Vitamin A


Dalam rangka menyambut bulan vitamin A yang jatuh pada bulan Februari, puskesmas Lindu bersama Pencerah Nusantara 3 melakukan promosi kesehatan vitamin A di posyandu se kecamatan Lindu. Dengan adanya penyampaian promosi kesehatan tentang vitamin A, harapannya masyarakat akan banyak hadir di posyandu bulan Februari serta adanya imput ilmu tentang vitamin A. Materi yang disampaikan meliputi apa itu vitamin A, fungsi vitamin A, jenis vitamin A, kepada siapa vitamin A diberikan, bahan makanan yang banyak mengandung vitamin A, akibat kekurangan vitamin A, dan dimana mendapatkan vitamin A.

Vitamin A merupakan vitamin yang sangat penting diberikan untuk bayi, balita serta ibu nifas. Kapsul biru 100.000 IU untuk bayi usia 6-11 bulan sementara kapsul merah 200.000 IU untuk balita usia 12-59 bulan dan ibu nifas. Kebanyakn yang sering dilupakan adalah pemberian vitamin A pada ibu nifas yaitu 1 kapsul segera setelah persalinan dan satu kapsul lagi untuk hari berikutnya. Palimng lambat diebrikan42 hari pasca persalinan.pemberian 2 kapsul vitamin A pada ibu nifas dikarenakan  Pemberian 1 kapsul Vitamin A merah cukup untuk meningkatkan kandungan Vitamin A dalam ASI selama 60 hari, Pemberian 2 kapsul Vitamin A merah diharapkan cukup menambah kandungan Vitamin A dalam ASI sampai bayi berusia 6 bulan, Kesehatan ibu cepat pulih setelah melahirkan, Mencegah infeksi pada ibu nifas.
Ibu-ibu menimbang anaknya di Posyandu Puro'o
Ns. Nahla menjelaskan pentingnya Vitamin A di Posyandu Puro'o

drh, Rahma memberikan Penyuluhan Vit A kepada Ibu-ibu di Anca
Cakupan vitamin A untuk bayi, balita, serta ibu hamil di kecamatan Lindu ada 550 jiwa untuk bulan Februari 2015. Puskesmas sendiri menargetkan 100% cakupan tercapai dan harapannya semoga tidak ada keterlambatan dalam distribusi vitamin A. Masyarakat merespon baik penyuluhan yang disampaikan dengan adaya pertanyaan-pertanyaan tentang vitamin A serta kesehatan mata. Kader pun juga siap bekerja sama dengan puskesmas untuk mensukseskan targetan vitamin A puskesmas. Kerjasama yang terjalin membuat optimis tergetan akan bisa tercapai. Semangat Lindunesia!


~bid. Yunita~

Sabtu, 17 Januari 2015

Penyuluhan Hipertensi saat Bersanji di Ds. Tomado

Sabtu siang sekitar jam 2, seperti biasa ibu-ibu berkumpul untuk “bersanji”. Bersanji kali ini berbeda dengan biasanya karena pengajian kali ini “Start” dari awal lagi mulai dari arisan, iuran, serta pesertanya bertambah. Mengapa diadakan minggu ini hari sabtu karena hari jumatnya diadakan acara maulid di masjid. Semua ibu-ibu bersanji dari kanawu, kalora, kangkuro, puro berkumpul di masjid. Ramai sekali yang datang, kami pengikut bersanji di tomado diwajibkan mengumpulkan minimal 50 kue ditambah dengan 5 pulut, untuk undangan acara maulid di masjid.

Nah bersanjinya diundur hari sabtu-kan, diadakan dirumah Haji Santi dekat dermaga, sebelum dimulai ibu-ibu pada sibuk membayar iuran, arisan maklum pesertanya bertambah jadi ramai suasana bersanji kali ini. Diakhir bersanji kami penyuluhan mengenai Hipertensi, penyakit yang sering dijumpai di kecamatan Lindu. Ibu-ibu antusias mendengarkan penyuluhan kami karena hampir sepertiga dari peserta bersanji denga tekanan darah diatas normal (jika dilihat menurut standart internasional JNC VI). Kami menjelaskan mulai dari pengertiannya, penyebab, mengatur pola hidup penting ini disampaikan karena terkait dengan kebiasaan masyarakat lindu yang jarang mengkonsumsi sayuran, kebiasaan merokok yang tinggi serta seringnya mengkonsumsi makanan berlemak. Masyarakat lindu menyebutkan “sayur” biasanya ikan mujair dari danau disebut “sayur” maka tak jarang penyakit sering datang.
dr. Damayanti menjelaskan dengan semangat
Foto bersama ibu-ibu pengajian
Kegiatan mengaji bersama
Semoga antusias ibu-ibu bersanji mendengarkan penyuluhan mengenai hipertensi bisa membawa sedikit perubahan dan mengerti maksud yang kami jelaskan serta diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Setelah penyuluhan kami banyak juga ibu-ibu yang bertanya, karena mereka menyadari dengan kondisi serta rasa khawatir akan penyakit hipertensi ini. Semakin menambah semangat kami untuk penyuluhan di bersanji selanjutnya. Salam Lindunesia.  


~dr.Damayanti Hapsari~

Kamis, 15 Januari 2015

Wongkodono dan Kebersihan Diri Anak

Perjalanan Tim menggunakan Ketinting
Perjalanan dengan ketinting atau perahu kecil selama satu jam membawa kami ke salah satu dusun sulit di Kecamatan Lindu. Dusun Wongkodono dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama 1 jam setengah setelah mengendarai ketinting dari ibukota kecamatan Lindu. Menyusuri jalan setapak yang terkadang tergenang oleh air ataupun becek tidak menyurutkan kami untuk terus datang setiap bulan kesana. Setelah satu setengah jam berjalan akhirnya kami menemukan rumah penduduk dan melakukan pelayanan kesehatan di Posyandu. Kedatangan kami kali ini tidak hanya akan melakukan pelayanan kesehatan tapi kami juga akan berkunjung ke sekolah dasar untuk menyampaikan promosi kesehatan mengenai kebersihan diri. SD Wongkodono merupakan kelas jauh dengan jumlah anak sekitar 25 orang dari kelas 1-6. Pertama kali kami hadir anak-anak terlihat sangat kucel dan kurang bersih. Akhirnya kegiatan dimulai dengan permaian tepuk tangan.
"Saya Kaaak belum mandi"
Selanjutnya Ns. Nahla bertanya “siapa disini yang tidak mandi?” ternyata semuanya mengacungkan tangannya, sontak Ns. Rezi dan Ns. Nahla tertawa. Akhirnya pertanyaan dibalik ”Siapa disini yang mandi?” , ternyata tidak ada. Selanjutnya Nahla menjelaskan pentingnya mandi dan menjaga kebersihan diri. Observasi yang dilakukan tampak anak-anak di desa wongkodono kurang menjaga kebersihan dirinya. Sehingga penyuluhan perilaku hidup bersih sangat penting agar menjadi kebiasaan dan perilaku hingga dewasa. Kegiatan dilakukan dengan beberapa anak maju untuk mencontohkan alat apa saja untuk mandi dan bagaimana cara mandi yang benar. Selanjutnya komitmen untuk mandi pagi dan sore hari setiap hari. Anak-anak akan dipantau juga oleh guru untuk menjaga kebersihan dirinya. Setelah selesai acara ditutup dengan permainan kerjasama oleh Ns. Rezi.
Semoga anak-anak Lindu dapat meningkatkan kesehatan dirinya sehingga bisa menjadi generasi Produktif. Hidup Lindunesia!!
Siswa Antusias melihat teman-temannya
Kegiatan ditutup dengan bermain bersama
~Ns. Nahla Jovial Nisa~


Minggu, 11 Januari 2015

Posyandu Lansia di Desa Langko

Sejak pertama kali kami bertugas di Kecamatan Lindu, untuk pertama kalinya posyandu lansia di desa langko diadakan. Jadwal  posyandu lansia di puskesmas lindu dibuat dalam dua bulan sekali untuk satu tempat, desa yang mendapat giliran juga di atur sedemikian rupa sehingga semua desa mendapat jadwal posyandu lansia. Posyandu lansia kali ini dilaksanakan hari minggu setelah jam ibadah gereja karena memang mayoritas penduduk Lindu nasrani.

Tak disangka banyak juga para lansia di desa langko datang untuk memeriksakan diri. Mereka senang karena kami dan puskesmas perhatian akan kondisi kesehatan para lansia di langko. Penanggung jawab bidan desa langko (kak hesty) pun datang dan juga kak desi salah satu perawat pns puskesmas lindu yang tinggal di langko pun turut serta memeriksa. Semua para lansia tertangani dengan baik berkat kerja sama kami dan petugas puskesmas.

Sebelum kegiatan posyandu lansia dimulai kami menyempatkan diri memberi penyuluhan mengenai Hipertensi, salah satu jenis penyakit yang banyak di derita di kecamatan lindu. Semua lansia dengan seksama mendengarkan penjelasan kami. Mereka sendiri menyadari akan jenis penyakit ini yang sering mereka dengar dan dialami oleh penduduk lindu. Mulai dari pemahaman penyakit hipertensi, penyebab serta mengatur pola hidup untuk pencegahan penyakit hipertensi ini. Karena kebiasaan penduduk lindu yang kurang mengkonsumsi sayur serta tingkat perokok yang tinggi menjadi salah satu penyebab tingginya angka penyakit hipertensi.
Masyarakat antusias mendengarkan dr. Damayanti menjelaskan Hipertensi
Meskipun hanya 2 lansia yang bertanya setelah penjelasan, mereka mengaku cukup senang dengan penyuluhan ini, terlebih lagi mengenai penyakit yang sering diderita di lindu ini. Harapan kami semoga jadi bahan renungan para lansia untuk merubah perlahan-lahan kebiasaan hidup yang kurang baik sehingga penyakit hipertensi dapat dicegah. Salam Lindunesia. 
~dr. Damayanti Hapsari~

Selasa, 06 Januari 2015

Marice: Sang Jurim Lindu

Berkenalan dengan Perawat Marice yang kecil dan ceria ini merupakan suatu kebanggaan bagi Pencerah Nusa. Pasalnya, Sejak tahun 2011 ia ditugaskan sebagai Juru Imunisasi dengan kondisi fasilitas yang sangat minim. Vaksin dengan kulkas kompor minyak tanah  pernah ia jaga selama lebih dari setahun “Dulu, dirumah setiap malam saya harus melihat minyak untuk memastikan suhunya tetap sama, terkadang banyak vaksin yang rusak”. Hal ini terjadi karena belum adanya kulkas vaksin dengan tenaga surya. Maklum saja, kondisi Lindu yang belum memiliki listrik membuat kulkas vaksin yang dibutuhkan lebih baik. Pada tahun 2012 kulkas vaksin akhirnya diberikan oleh Dinas Kesehatan Sigi kepada Puskesmas Lindu.


Perawat Marice mendokumentasikan sasaran Imunisasi
 Sejak itu Perawat Marice semakin termotivasi dan semangat untuk memberikan vaksin kepada masyarakat Lindu. Posyandu setiap bulan yang dilakukan di semua dusun di Lindu dijadikan saran untuk memberikan vaksin kepada  bayi-bayi. Meskipun statusnya masih sebagai tenaga PTT (Pegawai Tidak Tetap), ia selalu semangat menjalankan tugasnya sebagai Jurim. “anak-anak Lindu harus mendapatkan vaksin agar terhindar dari penyakit di masa akan datang” katanya.

Suatu kali kami bersama dengan  Perawat Marice pergi ke Posyandu Wongkodono. Wongkodono adalah salah satu Dusun Sulit yang harus ditempuh dengan ketinting dan berjalan kaki selama satu jam. Perawat Marice dan kami akhirnya berjalan kaki selama satu jam dan tiba di dusun. Disana Perawat Marice memotivasi ibu-ibu untuk memperhatikan status imunisasi anak-anaknya. Lalu, Perawat Marice memberikan  imunisasi kepada tiga bayi. Setelah memberikan imunisasi ia juga mengedukasi ibu-ibu untuk memperhatikan kondisi anak pasca imunisasi dan memberikan obat jika anak panas.
Perjalanan Pencerah Nusa dengan Petugas Puskesmas Lindu
Perawat Marice sedang memberikan imunisasi di dusun sulit Wongkodono
Kesedihan juga pernah dialami oleh Perawat Marice ketika ada satu dusun yang masyarakatnya tidak mau diimunisasi, yaitu Dusun Lembosa. Ia menyampaikan kepada petugas lainnya dan Pencerah Nusa untuk tetap membawa vaksin meskipun sedikit dan perlahan-lahan mengedukasi orang tua agar anaknya diimunisasi. Berkat kegigihan dan kesabarannya semua petugas, akhir-akhir ini ada 3 bayi yang mau diimunisasi di Dusun Lembosa.

Bagi Perawat Marice menjadi Jurim adalah tugas yang memberikan manfaat besar terhadap dirinya dan masyarakat. Pendekatan bahasa dan kebudayaan juga ia rasa penting dalam memberikan imunisasi bagi anak-anak. Selain itu kerjasama dengan petugas lainnya dapat mewujudkan UCI. Universal Coverage Imunization di Lindu merupakan harapan terbesar Perawat Marice kedepannya.
~Ns.Nahla Jovial Nisa~

Kamis, 04 Desember 2014

Edukasi Anti Rokok Sejak Dini

Rokok merupakan suatu hal yang tidak baru dan asing lagi di masyarakat, baik itu laki-laki maupun perempuan, tua maupun muda. Rokok secara luas telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Laporan World Health Organization, pada tahun 2030 diperkirakan lebih dari 80% kematian di negara-negara berkembang diantaranya di Indonesia diakibatkan oleh rokok.  

Usia muda/remaja sangat rentan untuk mengkonsumsi rokok. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SMP Negeri 1 Lindu, mengatakan bahwa 50% murid kelas VIII dan IX telah pernah mengkonsumsi rokok. Kepala Sekolah mengatakan bahwa anak-anak sering membeli rokok di warung luar sekolah saat jam istirahat, bahkan ada yang membawa dari rumah. Saat melakukan wawancara bersama murid kelas VIII, dari 5 murid 4 diantaranya sudah pernah mencoba untuk menghisap rokok. Wawancara dengan 5 murid kelas IX, semuanya telah pernah mencoba untuk menghisap rokok dan masih menghisap rokok berkepanjangan hingga habis 2 batang perhari. Perlu bagi tenaga kesehatan terutama Puskesmas Kecamatan Lindu untuk memberikan pendidikan kesehatan tentang prilaku dan bahaya dari merokok.

Pemateri dalam pemberian pendidikan kesehatan diberikan oleh Ns. Rezi. Pendidikan kesehatan dimoderatori oleh Perawat Agri sebagai pemegang Program UKS/UKGS Puskesmas Lindu, serta fasilitator dikendalikan oleh drh.Rahma dan Bd.Yunita. Hasil dari penyuluhan didapatkan 80% siswa dapat memahami bahaya merokok dan 75% siswa dapat menyebutkan tips berhenti dan menghindari merokok. 
Ns.Rezi menyampaikan materi tentang bahaya rokok

Siswa SMPN 1 Lindu fokus mendengarkan penyuluhan bahaya rokok



Bersama siswa, tim Pencerah Nusa III Lindu, telah mengambil komitmen agar tidak merokok serta menjauh dari teman dan keluarga perokok. Hasil kesepakatan bersama Guru di SMP N 1 Lindu, bahwa adanya komitmen tidak merokok baik di lingkungan sekolah maupun diluar sekolah. Keinginan dan kesepakatan untuk diberikan hukuman pada siswa yang tertangkap merokok menjadi sebuah sanksi disekolah. Harapan dari Kepala Sekolah dengan adanya pendidikan kesehatan tersebut, siswa dapat berhenti untuk merokok dan adanya keinginan dari siswa untuk memberitahu keluarganya sendiri agar menghindari rokok.


~Ns.Rezi Mawaldi,CBWC~