Tampilkan postingan dengan label Emergency 24/7. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Emergency 24/7. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Juni 2015

Supernahkoda Lindu



Salah satu indikator keberhasilan pencerah nusantara hadir di tengah-tengah masyarakat adalah memunculkan local hero yang mampu berkontribusi dalam masyarakat dan menggerakkan masyarakat dalam hal pemberdayaan. Keberadaan local hero diharapkan dapat menyadarkan masyarakat akan suatu hal yang sebenarnya mereka butuhkan hanya saja kesadaran itu belum terbentuk. 

Kecamatan Lindu yang moda transportasinya didominasi tranportasi danau telah memunculkan local hero pembawa kapal yang berkontribusi sangat berarti di tengah-tengah masyarakat. Di tengah kesibukan pekerjaan membawa kapal ke seberang danau mereka memiliki kesadaran untuk membantu masyarakatnya. 

Bang Rombe namanya. Pembawa kapal dari salah satu dusun sulit di desa Olu ini begitu hero dalam membantu masyarakatnya yang kesulitan. Kisahnya bermula beberapa waktu yang lalu ketika malam hari dia mengendarai kapalnya membawa pasien menyeberang dari dusun seberang. Di tengah malam yang dingin dan gelap tanpa lampu dia melajukan kapalnya menyeberangi Danau Lindu dengan laju maksimal yang dia mampu kendarai. Malam itu ada salah satu warga yang kerasukan hingga memotong tangannya sendiri dengan parang hingga darah mengucur seperti pancuran dari bekas potongan yang dia lakukan.

Teman pasien yang waktu itu bersama pasien saat dia memotong tangannya segera membawanya ke perawat Selvi yang merupakan perawat satu-satunya di desa Olu. Sesampai di sana Perawat Selvi segera melakukan penanganan yang mampu dia lakukan hingga karena darah yang keluar teramat banyak dan pasien mulai kedinginan ia pun segera memutuskan untuk membawa pasien ke Puskesmas untuk ditangani bersama teman puskesmas yang lain.

Bang Rombe yang kebetulan waktu itu sedang berada tak jauh dari Polindes desa Olu ketika mendengar kabar tersebut langsung tergerak untuk membawa pasien itu dengan kapal yang dia biasa bawa. Bersama dengan beberapa orang dan perawat Selvi berangkat ke puskesmas dengan hati yang cemas apakah pasien akan mampu tertolong.

Perjalanan menyeberang danau yang biasa ditempuh dalam satu jam dia pacu hingga dalam 30 menit sampai di desa Tomado. Segera dia rapatkan kapal, mengeluarkan motor dan membawa pasien tersebut ke puskesmas bersama seorang teman yang duduk d belakang pasien. Sampai di puskesmas pasien segera ditangani dan karena darah terlalu banyak dan pasien menggigil segera dilakukan pertolongan oksigen, infus dan persiapan rujukan.

Malam itu juga ternyata ada ibu yang baru saja melahirkan premature di dusun Lembosa. Segera setelah menyelesaikan urusan dengan pasien pertama perawat Selvi mengajak kami untuk menyeberang ulang ke desa Olu. Udara begitu dingin dan waktu telah menunjukkan pukul 00.30 kami menyeberang dengan kapal Bang Rombe. Di dalam kapal kami membicarakan apa yang akan kita lakukan dengan bayi hingga tiba di sebuah diskusi yang menjadi kendala kami. Karena kami bertiga berarti butuh satu motor lagi yang akan membawa kita ke dusun Lembosa. Kami tidak tahu akan meminta tolong ke siapa karena sudah tengah malam. Warga pasti sudah tidur.

Sepanjang kapal kami mencoba memikirkan siapa yang kira-kira akan kami mintai pertolongan. Sesampainya di dermaga desa Olu bang Rombe menawari kami untuk diantarkan ke dusun Lembosa. Waktu itu air sedang tinggi. Jalanan tertutup air danau. Jalanan yang jelek ditambah genagan air membuat pengendara motor siapa pun itu pasti terasa lebih lelah dalam mengendara motor. Air selutut bahkan sepaha orang dewasa. Knalpot pun terendam dan banyak motor yang macet tak mampu lagi jalan. Di tengah hujan gerimis kami berangkat ke dusun Lembosa dengan 2 motor. Jalanan teramat lincin hingga hampir saja jatuh di kali kecil di dekat sawah. Bang Rombe berada di belakang untuk memastikan motor di depan yang dikendarai perawat Selvi aman.

Hingga jam 04.30 kami di Lembosa dan kemudian memtuskan pulang. Di tengah rasa lelah dan kantuk karena belum sempat tidur sejak pagi, Bang Rombe masih dengan senang hati mengantar kembali kami pulang ke Polindes. Apa yang sudah dilakukan Bang Rombe membuat kami terkesima karena tak banyak sosok sepertinya. Di waktu yang lain tertidur lelap, dia berjuang untuk membantu saudaranya yang diambang hidup dan mati. Tak pernah terlihat mengeluh dan selalu sigap ketika yang lain membutuhkan bantuannya.
Bang Rombe merapatkan kapal dengan menarik tali kapal
Kapal adalah satu-satunya transport yang mampu membawa motor ke seberang danau Lindu
Local hero yang kedua Bang Arpan namanya, seorang pembawa kapal yang berkontribusi dalam posyandu di desa seberang yaitu di desa Olu. Olu yang memiliki 4 dusu dengan 2 dusun sulitnya membuat dia sadar bahwa dia ingin berkontribusi demi kelancaran proses posyandu di sana. Kontribusi itu sudah terlihat mulai dulu Pencerah Nusantara I memulai posyandu di seberang. Dan kini dia masih eksis dalam menemani PN melakukan posyandu di dusun seberang.

Terbatasnya petugas puskesmas yang bisa berangkat ke posyandu seberang membuat dia tergerak untuk membawa motornya, meninggalkan kapalnya dan menemani salah satu dari PN berangkat ke posyandu di dusun Lembosa. Walaupun di posyandu dia tidak terlibat banyak tetapi kontribusinya untuk bisa membawa petugas puskesmas maupun PN ke lokasi itu patut diapresiasi. 

Bang Arpan mengeluarkan motor penumpang

Banyak hal yang dapat kita ambil dari kisah mereka berdua, dimana menjadi seorang pahlawan itu tak harus melakukan suatu hal yang besar tetapi hal yang sederhana saja ketika yang lain tak mampu melakukan itu sudah boleh disebut pahalawan. Karena yang terlihat sederhana itu sebenarnya tak sesederhana yang terlihat. Terima kasih untuk Bang Arpan dan Bang Rombe. Inspiratif.


Bang Rombe adalah sosok yang ramah dan penuh senyum kepada semua orang


By Yunita Junior
Bidan Pencerah Nusantara

Rabu, 31 Desember 2014

PARTUS NORMAL RIWAYAT SECTIO SAESAREA: Kesabaran Berbuah Manis

Tengah malam kami PN-3 sedang terlelap tidur,  2 orang bapak-bapak mengetuk pintu depan rumah kami. Kami terbangun dan membuka pintu, dengan mata masih mengantuk mereka berdua menyampaikan bahwa ada ibu yang butuh pertolongan persalinan sambil membawa sebuah kertas yang bertuliskan pesan memohon bantuan dari Bidan Rahel (bidan Desa Puro’o). Cepatlah kami mengecek tas emergency yang telah kami siapkan, obat-obatan termasuk alat dengan kondisi kelopak  mata sulit membuka lebar kami gotong royong mengeceknya. Bergegaslah menuju rumah pasien, disana ternyata Bidan Rahel telah menanti kedatangan kami dan menceritakan riwayat kesehatan ibu dengan melihatkan buku KIA.  Bidan Rahel juga telah menganjurkan kepada keluarga untuk melalakukan persalinan di Rumah Sakit Tora Bello Kab. Sigi. Namun, sebelum hari keberangkatan tanda-tanda persalinan telah muncul.
Memang benar-benar di uji kesabaran kami, saat kami datang sang  ibu masih berdiri tegak sambil sesekali merintih kesakitan. Kami memaklumi kondisi ini karena riwayat persalinan sebelumnya kurang lebih 8 tahun yang lalu dengan sectio caesarea. Hingga pukul 4 pagi belum ada kemajuan persalinan barulah kami memberikan obat-obatan dan satu jam  kemudian kontraksi ibu semakin kuat. Meskipun begitu proses persalinan masih sulit dan cukup lama, mungkin hal ini salah satu penyebab mengapa persalinan sebelumnya dengan SC. Dengan penuh kesabaran dan keyakinan serta support sepenuhnya kepada ibu, akhirnya lahirlah bayi laki-laki dengan berat 2,9kg dan panjang badan 50cm. 
Bidan Rahel melakukan Perawatan Tali Pusat pada Bayi

Bidan Rahel merasa lega setelah membantu persalinan ini, karena belum pernah beliau membantu persalinan normal dengan riwayat SC sebelumnya. Dengan adanya kasus ini semakin kuat kami PN-3 untuk melaksanakan program kerja “Penyegaran – Hari Terampil” yang nantinya penyegaran tersebut dapat sustained untuk jangka panjang, tentunya mengenai kasus emergency pada persalinan. Berbekal pelatihan di FK-UI RSCM Jakarta dapat meningkatkan pelayanan kesehatan khususnya di Kecamatan Lindu. Semoga kasus ini menjadi semangat kami sebagai Pencerah Nusantara III yang benar-benar mencerahkan dikemudian hari di Lindu. Salam Lindunesia.


Selasa, 01 April 2014

Ditandu Lagi 4 jam perjalanan jalan kaki “Rujukan Pasien dengan Hernia Inguinalis Dekstra Inkarserata”


          Ini merupakan kesekian-kali nya kami Pencerah Nusantara Lindu Batch 2 merujuk pasien dengan emergency case . Kali ini yang ikut merujuk dan mendampingi pasien  ke Rumah Sakit Anutapura di Palu adalah Perawat Nina dan Sanitarian Rino. Pasien yang dirujuk adalah dengan Hernia Inguinalis Dekstra Inkarserat.

Pasien Ditandu untuk dirujuk ke RS di Palu
Pasien Tn. E usia 32 tahun berasal dari salah satu dusun sulit yang berada di Kecamatan Lindu yaitu Dusun Lembosa. Awalnya pasien dan keluarga datang kesatu-satunya Polindes yang berada di seberang Danau Lindu yang berada di dusun Kanawu Bawah yang ditempati oleh Perawat Selvi, untuk menuju polindes pasien dan keluarga harus melewati kebun cokelat dan ilalang. Pasien dibawa dengan cara dipikul/ digendong oleh keluarga selama 1,5 jam perjalanan kaki menuju Polindes. Sesampai di Polindes Perawat Selvi langsung merujuk pasien ke Puskesmas Lindu karena penyakit yang di derita oleh pasien tidak bisa ditangani oleh Perawat Selvi. Dengan didampingi Perawat Selvi pasien dibawa menyeberang danau dengan kapal dan sampai di desa tomado tempat beradanya Puskesmas.

Pasien sampai di Puskesmas Lindu sekitar pukul 15.00. Perawat Selvi langsung memanggil kami  (red. PN 2 Lindu) yang berada dan tinggal di rumah dinas puskesmas. Kami langsung menuju puskesmas untuk melakukan tindakan dan pertolongan. Pasien diperiksa oleh dr.Rahmi dan didiagnosa dengan Hernia Inguinalis Dekstra Inkarserat. Dengan dibantu Perawat Selvi dan Perawat Nina dipasangkan impus kepada pasien. Selama beberapa jam dipantau kondisi pasien dan dr. Rahmi menyarankan untuk dirujuk ke rumah sakit karena dilihat dari kasus yang sudah diderita pasien. Karena pertimbangan berbagai hal akhirnya diputuskan untuk merujuk pasien esok harinya. Pasien sempat dirawat satu malam di Puskesmas Lindu.



Ditandu 4 jam Jalan kaki turun gunung

Keesokan harinya pasien dirujuk ke Rumah Sakit Anutapura di Palu. Untuk mencapai rumah sakit harus turun dari Lindu menuju sidaunta (tempat adanya akses jalan raya)dari Puskesmas Lindu menuju Sidaunta pasien harus ditandu dan berjalan kaki menyusuri Hutan Taman Nasional Lore Lindu selama 4 jam. Setelah 4 jam perjalanan kaki sampai di Sidaunta dan mobil
ambulance Puskesmas Lindu sudah di Standby-kan di sana. Pasien pun segera dibawa menuju rumah sakit untuk mendapat pertolongan dan penanganan yang lebih lanjut.

By. Rino Irvan Satria, Amd.KL  /@ninoxirvan

Kamis, 05 Desember 2013

Shocking....... Pasien Emergency Pertama


11 oktober 2013
Hari kedua kami d i lindu, cuaca hari itu sangatlah bagus. Siang itu, setelah jam pelayanan puskesmas berakhir, sekitar jam setengah satu siang,  ada pasien yang  datang ke rumah kami, dengan keluhan keluar darah dari kemaluan dan sakit perut sejak tadi pagi. Kami pun bergegas membawa pasien ke puskesmas untuk di periksa.

Setelah dilakukan pemeriksaan, diketahui bahwa pasien dengan usia kehamilan 32 – 33 minggu, dengan adanya perdarahan  dan kontraksi rahim. Karena usia kehamilan yang belum cukup bulan, maka kami melakukan  terapi untuk mempertahan kehamilan, pasien di rawat dan dilakukan observasi intensif. Akan tetapi kondisi pasien tidak menunjukan perbaikan, dr. Pencerah Nusantara dan dr. PTT  Puskesmas mendiskusikan bagaimana kondisi pasien dan bagaimana tindakan yang akan dilakukan.

Kondisi pasien yang  semakin memburuk dan  memerlukan tindakan aktif segera, mengharuskan dilakukan persalinan prematur. Dalam keadaan emergensi yang tegang, menguras pikiran dan tenaga, semua dokter dan paramedis serta pencerah nusantara saling membantu dalam menolong persalinan pasien.

Dengan peralatan yang terbatas, proses persalinan berjalan sulit,  dokter berusaha memimpin persalinan dan menyemangati ibu agar tidak menyerah dan tetap berjuang. Sang bayi akhirnya lahir, akan tetapi kondisinya sangat lemah dan bayi tersebut memiliki kelainan bawaan. Kondisi bayi semakin melemah dan tidak dapat bertahan. Dokter pun  menjelaskan kondisi dari ibu dan bayinya kepada keluarga pasien, mereka pasrah dan tabah menerima kondisi tersebut.
Setelah dilakukan observasi selama 4 jam, kondisi ibu setelah persalinan stabil. Atas permintaan pasien dan keluarga, pasien pulang sore itu juga.
Pasien Emergency Pertama


by. dr. Rahmi Harmades

IDUL ADHA VS EMERGENCY CALL

 Lebaran Idul Adha jatuh pada tangal 15 Oktober 2013. Untuk menyambut hari lebaran Linduholic (red. PN 1 & 2) sibuk mempersiapkan makanan yang akan dimakan pagi hari saat lebaran. Moment lebaran kali ini jauh dari keluarga. Lebaran kali ini kami habiskan bersama keluarga baru yang terjalin di Dataran Danau Lindu. (Linduuuuuuuuuholic :*). Makanan yang dipersiapkan untuk lebaran Idul Adha ini adalah Opor Ayam. Opor ayam merupakan menu yang harus ada dalam setiap momen lebaran. 

Gema takbir sayup-sayup berkumandang di tepi pantai (red.danau lindu). Allahuakbar… Allahuakbar… Allahuakbar… Lailahailallahu Allahuakbar….. Allahuakbar Walillah Ilham…… Dengan langkah semangat kami pergi menunaikan shalat Idul Adha di mesjid yang terdapat di pinggir pantai. Hanya ada satu mesjid di Dataran Lindu karena Agama Islam merupakan agama minoritas di dataran Lindu. Setelah selesai Shalat ID kami diundang untuk makan bersama di rumah imam masjid. Sajian yang disajikan adalah makanan khas bugis, karena orang islam di Dataran Lindu adalah dari Suku Bugis. Kami disuguhkan BURAS (bubur beras) maknan khas Bugis
Keluarga Besar Pencerah Nusantara Lindu

Malamnya sekitar pukul 20.10 WITA, Linduholic dan dokter PTT sedang berkunjung ke tahlilan salah satu warga yang bernama Ibu Aida di pinggir pantai (red.tepi danau lindu). Disaat sedang tahlilan tiba-tiba ada panggilan dari salah satu warga yang meminta pertolongan. Ada Pasien Bumil usia kandungan 8 bulan mengalami perdarahan. Dokter Darsuna, dan Perawat Fitri bergegas ke rumah pasien. Sementara Linduholic dan dokter PTT meminta izin untuk kembali ke Puskesmas dan bergegas untuk mempersiapkan rujukan ke puskesmas. 

 

 Di Puskesmas, dr. Gung Wik, dr rahmi sibuk mempersiapkan alat-alat dan bahan-bahan. Mereka dibantu oleh perawat Nina, pemkes Utri dan pemkes Arie. Mulai dari persiapan obat-obatan, V-scan, Set Infus dan lain sebagainya. Sementara Epidemiolog Usman dan Sanitarian Rino sibuk mempersiapkan logistik, mulai dari listrik (red.genset) dan air bersih yang harus di alirkan ke bak-bak penampungan di Puskesmas. Pasien datang dengan cara “ditandu” dari rumah ke Puskesmas oleh warga, satu persatu tindakan diberikan oleh Pencerah Nusantara dan dokter PTT. Perdarahan yang keluar dari jalan lahir sudah bisa ditangani. Hasil pemeriksaan V-scan saat itu masih adanya DJJ (Denyut Jantung Janin). Pasien dirawat dan sepanjang malam pasien ditemani oleh Pencerah Nusantara dan keluarga pasien. Dan akhirnya diputuskan bahwa pasien harus dirujuk ke RSUD yang ada di Kota Palu. 
Pasien Bumil Risti Di TANDU dari Lindu-Sidaunta 4 Jam perjalanan

 by. Rino Irvan Satria, Amd.KL