Sabtu, 11 Mei 2013

Balada Hidung Hitam karena genset rusak


Lindu adalah daerah dengan kategori sangat terpencil karena tidak memiliki jaringan  sinyal seluler, tidak ada listrik PLN yang menyala 24 jam,dan akses jalan sekarang hanya bisa dilalui oleh motor, karena kondisi alam lindu tidak stabil,walau jalan sudah sempat dilebarkan hingga februari lalu mobil bisa naik ke Lindu, Namun sekarang jalan tersebut tidak bisa dilalui oleh mobil lagi karena longsor yang muncul saat hujan menutup jalan hingga hanya bisa dilalui oleh motor saja. Keadaan ini sudah cukup baik dibandingkan Lindu dijaman dahulu kala yang menggunakan kuda untuk menempuh perjalanan 17 KM. Baru tahun 2000 motor bisa menembus jalanan Lindu. Sejak jalan dibuka kami percaya bahwa Listrik PLN dan sinyal seluler akan masuk ke Lindu, Namun tampaknya sebagian warga Lindu yang berkategori mampu masih harus menyisihkan uang untuk membeli bensin dan oli karena memanfaatkan genset untuk penerangan di malam hari, sedangkan yang ekonomi lemah harus memanfaatkan cahaya pelita dari lampu semprong.
lampu buatan sendiri :) dari hasil memulung sampah


Kami juga menggunakan genset puskesmas untuk penerangan dimalam hari, namun sejak bulan april hingga awal mei genset kami rusak, sudah berulang kali kami memanggil orang untuk memperbaiki genset , dari papa delon, pak mang, hingga pak faisal, dari pagi hingga malam, bahkan hingga 3 hari untuk membenarkan genset yang kemudian hanya hidup untuk 1 jam saja. Pak mang yang kreatif  memanfaatkan barang-barang bekas untuk dipakai sebagai onderdil genset yang banyak hilang dan rusak. Bahkan sakina dan rizki anak pak mang yang sering belajar di rumah kami ikut membantu bapaknya memperbaiki genset. Setelah genset hanya hidup 1 jam di malam itu, keesokan harinya dan hari-hari berikutnya waktu habis untuk mengejar pak mang yang berprofesi sebagai tukang ojek untuk memperbaiki genset. Rasa malu pun menyerang kami karena setiap hari memanggil pak mang, akhirnya kami memutuskan untuk  mencari genset baru di Palu setelah hampir 3 minggu tanpa listrik. karena Tak sedikit uang yang kami habiskan hanya untuk memperbaiki genset yang usianya sudah 5 tahun tersebut hingga kami menyerah untuk memperbaikinya.

Dengan matinya genset otomatis efektivitas pekerjaan kami berkurang, laporan-laporan dan beberapa surat undangan untuk kegiatan yang akan kami lakukan tidak bisa dikerjakan  karena laptop dan printer tidak bisa digunakan. Tidak ada tablet dan Handphone yang biasa kami gunakan untuk bermain game dan membaca ebook ketika kejenuhan melanda. Bahkan untuk rutinitas menghidupkan musik sebagai pembangkit semangat di pagi hari dan untuk menyamarkan suara-suara binatang di malam hari tidak bisa dilakukan. Tidak ada kamera untuk mendokumentasikan kegiatan kami. Bahkan lampu emergency andalan untuk penerangan setiap malam sudah habis baterainya. Rasanya setiap pagi ingin cepat menjadi malam, dan malam hari ingin cepat berlalu menjadi pagi.

Lilin yang berpack-pack pernah kami beli dulu sudah patah-patah karena perjalanan dengan ojek dan tidak dipackaging dengan baik membuat tidak bisa terpakai, lilin di warungpun sudah habis terjual . akhirnya untuk penerangan di malam hari kami memulung beberapa botol bekas di tempat sampah puskesmas dan tempat sampah rumah kami, bagaikan pemulung mencari botol-botol kaca, bertemu botol tapi tidak ada tutupnya, hingga berlanjut memulung tutup-tutup botol yang sesuai dengan botol, dengan bermodal Sumbu kompor dan minyak tanah, akhirnya kami mendapatkan penerangan walau harus menahan nafas dan beradaptasi dengan asap yang menyebar ke seluruh penjuru ruangan karena sumbu kompornya kebesaran dan ventilasi udara rumah kurang. Pintu rumah terpaksa dibuka supaya asap tidak membuat kami kekurangan oksigen walau dengan risiko digigit nyamuk. Saat mata sudah mengantuk saatnya lampu buatan kami dimatikan untuk mencegah kebakaran, kamipun tertidur lelap dalam gelap gulita, dan keesokan harinya baru menyadari bulu hidung kami menjadi hitam karena jelaga dan dinding di ruang tengah menjadi kehitaman. :)


salam,
dr. Darsuna Mardhiah
Pencerah Nusantara Lindu Batch I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar